Langsung ke konten utama

Postingan

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Urbanisasi yang Didorong oleh Tradisi

 " Aa, ulin atuh ka kota !" saran seorang guru sekolah saya ketika berkunjung ke rumah.  Saya pun menanggapi anjuran itu hanya dengan sebuah senyuman. Tidak ada untaian kata yang terucap dari mulut. Meskipun tahu jika kalimat dari Bu Guru terucap setelah melihat saya tidak pergi ke kota sebagaimana pemuda desa lainnya. Ungkapan tidak segera ditanggapi karena dalam pikiran ada banyak opsi untuk disampaikan sebagai jawaban. Bingung pula mesti menyampaikan pilihan kata yang mana. Opsi pertama, saya akan memberikan alasan kenapa masih berada di desa karena tidak tahu jika urbanisasi adalah sebuah tradisi. Saya pikir pergi ke kota hanyalah kebutuhan belaka. Andaikan seorang manusia tidak terdesak untuk pergi ke kota maka melangkahkan kaki meninggalkan désa bukanlah sebuah perkara yang wajib.  Opsi kedua, saya akan menyampaikan alasan keberadaan di desa karena keadaan keluarga mengharuskan tetap berada di rumah. Artinya, setiap keluarga memiliki situasi yang tidak sama. Bahkan,...

Memanfaatkan Benda-benda Sederhana, Kenapa Orang Desa Enggan Melakukannya?

Botol bekas menjadi hiasan (Dokpri.) Sudah berkali-kali saya menulis kata bermanfaat , memanfaatkan , atau manfaat dalam blog ini. Berkali-kali pula mempertanyakan kenapa orang-orang enggan memanfaatkan hal-hal sederhana di sekitarnya?  Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa beragam. Saya pun hanya bisa mengumpulkan beberapa jawaban walaupun belum begitu memuaskan. Diawali dengan mengamati orang-orang terdekat yang mengelilingi kehidupan sehari-hari. Ditambah, memperhatikan pula media massa yang menyampaikan hal serupa. Ada pula pemberitaan yang menyampaikan kebalikan dari realita yang ditemui tetapi tidak terserap secara indrawi. Sedikit-sedikit, membuka buku dan membaca jurnal yang tersebar di internet. Melalui semua itu, saya mulai menyimpulkan jika perkara keengganan warga desa memanfaatkan hal sederhana bermula dari pendidikan. Kasihan juga ya, ibu-bapa guru senantiasa dijadikan objek dari akibat segala macam sesuatu yang jelek. Namun, mau bagaimana lagi. Segalanya berhulu dar...

Mempertahankan dan Memanfaatkan Bekal Hidup yang Sederhana

  Dokumen pribadi. Saya berada dalam persimpangan, apakah meninggalkan domba-domba ini demi mencari yang "lebih besar", atau melestarikan mereka? Bukan keputusan yang mudah diambil. Ada banyak pertimbangan untuk segera mengambil keputusan kemudian bertindak. Sejak masa kanak-kanak, keluarga kami terbiasa memelihara kawanan domba. Kegunaan hewan berbulu ini sungguhlah besar bagi kehidupan keluarga. Selain kegunaan secara fisik, ternyata domba memiliki pengaruh yang kuat dalam kesehatan mental.  Sebagaimana yang pernah ditulis sebelumnya, domba-domba ini bisa menghasilkan daging yang nikmat juga menghasilkan pupuk kandang yang menyuburkan tanah. Andaikan tidak ada kotoran hewan, kami bisa kesulitan mencari solusi untuk kembali meningkatkan unsur hara di tanah. Sawah-sawah yang telah digunakan dalam waktu lama mengalami penurunan tingkat kesuburan. Telapak kaki saya pun merasakan betapa keras postur tanah yang sudah jenuh. Hamparan lahan di pedesaan perlu peremajaan. Ketika domb...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...

Terkoneksi dengan Sumber Ilmu Pengetahuan

Membaca buku sambil ngopi dan mendengarkan radio menjadi kegiatan di pagi hari (dokpri.) Saya punya hobi membaca sejak masa remaja. Kebetulan, Bapa mengoleksi buku terbitan lama. Buku-buku itu dibelinya dari toko di kota. Namun, ada masa dimana kegiatan membeli buku terhenti karena tidak ada yang bepergian ke sana. Hingga, suatu waktu internet memudahkan saya untuk bertransaksi dengan toko buku yang jauh dari desa. Buku bisa dipesan, menunggu beberapa hari, kemudian kurir mengantarkan pesanan hingga ke rumah. Sensasi Ketika Paket Tiba Ada perasaan senang ketika kurir JNE tiba di depan pintu. Salah seorang diantara kami sudah bisa menebak bagaimana perasaan masing-masing. Dalam hati, menerka jika Si Akang Kurir senang karena bisa menyelesaikan tugasnya. Begitu pun sebaliknya, dia akan mendapati rona wajah yang sudah familiar ketika mendatangi pelanggan.  Saya perhatikan, barang yang menumpuk di sepeda motor sang kurir masih banyak. Bisa menjadi pertanda jika warga sekampung melakuka...

Rendah Hatilah dalam Menyampaikan Pengetahuan

  Jika saja saya membaca buku ini sekira 30-20 tahun lalu maka kemungkinan bisa merancang sendiri pelajaran apa yang dibutuhkan. Bisa mempelajari hal yang berbasis minat, bakat serta potensi di sekitar tanpa harus terlalu banyak input pengetahuan lain. Pada awalnya, saya merupakan tipe anak yang penurut dan percaya pada apa yang dibicarakan oleh orang dewasa. Perkataan mereka adalah sebuah kebenaran. Bahkan, nasihat orang dewasa berlandaskan suatu filsafat yang memiliki makna mendalam. Ternyata, tidak demikian.  Ada saatnya, ketika orang dewasa bicara kepada anak-anak hanyalah sebuah cara untuk menunjukkan kekuasaan. Hal yang dibicarakan hanyalah sebuah asumsi, opini atau sekedar cara untuk menutupi kelemahan diri. Terkadang, orang dewasa enggan terlihat  lemah di depan anak-anak. Makanya, mereka menjadi sangat banyak bicara. Membicarakan pengalaman yang tidak relevan dengan zaman seakan hal demikian merupakan pertaruhan. Semata membanggakan diri jika mereka telah melakuk...