Langsung ke konten utama

Postingan

Menegaskan Tujuan atau Meramalkan Capaian

Tujuan menjadi sangat berarti dalam usaha kita membangun kehidupan. Tujuan sangat erat kaitannya dengan kondisi masa depan.  Maka tidak aneh antara tujuan dan realita masa depan sering berbeda, itu karena tidak tegasnya sebuah tujuan. 'Martabat' manusia yang tinggi yakni memiliki akal menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lain. Sepengetahuan saya, kekuatan akal ini tidak hanya mencerna apa yang ada di depan mata tetapi juga diajak untuk berimajinasi. Surga dan neraka adalah imajinatif. Namun, dengan keyakinan banyak orang berusaha untuk mencapai atau menghindarinya. Sayangnya, fungsi akal ini menjadi 'salah kaprah' karena dogma agama yang tidak pada tempatnya. Ketika orang Atheis tidak percaya agama karena dianggap tidak bisa merekayasa kondisi didunia, maka kaum agamis harus meyakinkan diri bahwa masa depan dunia tidak lepas dari agama. Agama tidak hanya berbicara moral belaka tetapi juga harus membicarakan konsep perbaikan lingkungan. * Akal kita menjadi...

Alat: Jika Tidak Digunakan, Ya Tidak Bermanfaat

Coba lihat disekeliling kita, begitu banyak alat yang bisa kita gunakan. Berapa banyak  yang sudah digunakan dengan optimal? Alat sesederhana seperti sapu pun jarang digunakan. Bila sering, kenapa lingkungan kita masih kotor. Sampah berserakan dimana-mana. Bila kita punya sebilah golok, buat digunakan apa? Untuk membuat kerajinan, menebang pohon atau 'membunuh orang'? Alat bisa berfungsi jika ADA RENCANA. Untuk urusan rencana ini, saya ingin menekankan bahwa kita tidak usah membatasi diri. Persepsi kita tentang hari akhirat dan kematian semestinya bukan membatasi kita untuk punya 'rencana masa depan' bagi anak-cucu. Warisan tidak hanya materi, tetapi juga 'warisan immateri' berupa ide-ide dan rencana aksi demi mendapatkan ridho Illahi. Saya menyaksikan sendiri, bagaimana suatu komunitas menjadi 'kebingungan' karena tidak adanya kompas. Layaknya kapal yang ditinggal mati oleh nahkodanya, komunitas itu terombang-ambing tanpa jelas tujuan. Para kr...

Insinyur Memimpin Desa

Lihatlah, desa kita 'nyaris tidak ada apa-apa'. Mau jadi apa? Desa kita perlu dibangun. Tetapi, dibangun apa? Pertanyaan itu ada dalam otak para insinyur. Bukan otak para pedagang. Pedagang kurang tertarik membangun karena sulit mencari untung. Sedangkan insinyur, punya otak 'pencipta' dimana bagi mereka untung datang belakangan. 'Imajinasi' sang insinyur adalah 'anugerah Illahi' yang  terhubung dengan alam semesta, bahkan hingga ke 'tempat yang jauh dari jangkauan'. Para insinyur berpikir teknis. Tetapi, tentu saja mereka pun tidak akan melupakan sisi humanis karena kita tidak sedang hidup di negara atheis. Pola pikir teknis sangat diperlukan dalam pembangunan karena bisa melihat alam ini sebagai sistem yang dibangun bukan sistem yang 'terbangun begitu saja'. Pemimpin dari kalangan 'teknisi' senantiasa memiliki ambisi mengisi hari. Bukan berarti dari kalangan lain tidak punya ambisi, hanya saja persepsinya tentang ...

Kepemimpinan di Pedesaan: Kultural atau Struktural?

Masih ada yang tidak sadar bahwa kepemimpinan tidak hanya struktural/formal tetapi juga ada/masih berlaku kepemimpinan kultural/informal di pedesaan. Sebagai contoh, seorang Kyai tentu saja pemimpin kultural dimana tidak ada jabatan formal yang diembannya. Namun, keputusan pembangunan di pedesaan masih dipegang olehnya. Arah pembangunan seperti apa yang diinginkan masih bergantung padanya. Setidaknya, begitulah yang terjadi di banyak desa. Fokus perhatian kepemimpinan di pedesaan beralih dari waktu ke waktu. Siapa yang bisa memenuhi 'kebutuhan' warga maka dia yang dianggap 'layak memimpin'. Membentuk lembaga formal _seperti lembaga non-profit_, belum tentu menjadi efektif dan efisien demi pembangunan pedesaan. Pergeseran 'kebutuhan'. Setidaknya itulah yang  sering saya lihat di pedesaan.  Jika dahulu lembaga non-profit begitu mempengaruhi pembangunan, saat ini lembaga seperti dianggap belum bisa menjawab persoalan 'klasik' di desa. Kita soroti...

Apa Sarana yang Paling Cocok Untuk Perubahan Sosial di Desa Kita?

Mau lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, industri atau lembaga nirlaba, itu bergantung pada 'kebutuhan'. Setiap waktu dan tempat memiliki cerita yang berbeda. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya, begitu pepatah bilang. Pemikiran itu bercermin di desa saya sendiri. Dimana saat ini lembaga pendidikan sudah sulit untuk 'mengubah' kondisi sosial. Mungkin karena kebutuhan zaman. Dahulu pendidikan begitu 'dibutuhkan', sekarang pendidikan menjadi 'pilihan'. Untuk itu, harus ada upaya menelaah terlebih dahulu apa kebutuhan desa kita. Perbedaan kebutuhan ini diharapkan bisa menjadi dasar untuk menentukan sarana apa yang cocok bagi perubahan sosial di desa. Bagaimana kita menelaah kebutuhan, itu juga bukan perkara gampang. Dalam menentukan kebutuhan itu, sangat dipengaruhi oleh filsafat hidup yang dianut. Teori dengan perhitungan matematis sepertinya sulit mengukur kebutuhan itu. Namun, filsafat hidup, dimana tidak perlu perhitungan mat...

PIKIRAN YANG GEMBIRA

Suasana pikiran yang gembira dan optimis berhadapan dengan kesulitan-kesulitan membangkitkan tenaga dalam diri kita yang dapat melawan kesulitan-kesulitan itu dan segera memungkinkan kita melihat dengan terang kembali, bertindak dengan cerdik dan mendapat hasil-hasil yang diinginkan, daripada terus jadi korban dari pikiran kalut kita sendiri dan suasana-suasana yang telah ditariknya pada kita. Kalau anda cenderung menyalahkan suatu peristiwa kepada orang lain atau hal-hal di luar kemampuan anda -atau dikatakan "nasib buruk" -kesampingkanlah semua sikap mental yang merusak ini dan kendalikanlah diri sendiri. Bertekadlah untuk mengubah seluruh tinjaun hidup anda dalam waktu singkat. Ini dapat dilakukan. Dan, dengan gembira anda akan menyadari bahwa tidak ada kejadian yang kebetulan itu, bahwa selamanya ada tenaga penggerak di balik kejadian yang bagaimanapun tak berarti. (Dale Carnegie)

PENDIDIKAN MENENGAH YANG TERABAIKAN

Di negara terbelakang, termasuk Indonesia, mengabaikan fokus pada pendidikan menengah. Profesor Lewis menganggap orang-orang dengan pendidikan menengah sebagai "perwira dan perwira cadangan" dari suatu sistem ekonomi dan sosial. Sebagian kecil warga melanjutkan ke perguruan tinggi, tetapi jumlah personil yang diperlukan dengan pendidikan tinggi sangatlah kecil dimana rata-rata negara yang berpenduduk sampai lima juta dapat menguasainya dengan cukup baik tanpa memiliki universitas sendiri. Pejabat bisnis tingkat menengah dan atas hampir seluruhnya terdiri dari produk sekolah menengah, dan produk ini juga merupakan tulang punggung administrasi negara. Selain itu, pendidikan pertanian, pendidikan orang dewasa dan program latihan kerja diabaikan. Pendidikan orang dewasa akan membantu mengubah pandangan petani, mengasah keterampilannya dalam mengambil keputusan dan memberikan informasi yang diperlukan tentang praktek pertanian mutakhir. Pada perekonomian yang berorientasi pe...