Langsung ke konten utama

Postingan

Memetik Hikmah dari Kejadian Sekitar: Cara Mudah Belajar Orang Desa

Sumber : staticflickr.com Ada suatu paradigma bahwa belajar harus di sekolah atau kuliah. Paradigma ini jelas tidak salah. Namun, membatasi diri pada belajar formal saja membuat orang tidak ingin belajar dari kejadian sehari-hari. Memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita juga adalah bentuk belajar. Warga desa sangat didorong untuk terus belajar memahami apa yang terjadi. Pembelajaran ini sebagai suatu bentuk cara orang desa "bertahan hidup" di tengah perubahan zaman yang sulit diprediksi. Sumber pembelajaran orang desa tidak melulu harus dari orang kota. Saya sering didorong untuk mencari ilmu ke kota. Namun, tidak didorong untuk mempelajari apa yang sedang terjadi di desa. Apakah kita menyadari, bahwa kurikulum pembelajaran yang meniru orang kota membuat kita lupa akan potensi daerah sendiri. Saya mengalami hal itu. Saat ini, saya sendiri banyak 'tidak tahu' nama binatang yang hidup di sekitar rumah. Nama-nama binatang itu seakan 'asing' di te...

Mengubah Budaya Desa: Agrikultur Menjadi Industri

Sumber: okezone.com Dasar pemikiran dari judul di atas adalah suatu kenyataan dimana di beberapa desa terjadi over populasi. Produksi pertanian sangat rendah apabila dibandingkan dengan jumlah manusia yang dipergunakan dalam produksi tersebut. Proses urbanisasi bisa terjadi dalam waktu cepat atau lambat, bergantung daripada keadaan masyarakat yang bersangkutan. Sebagaimana yang disampaikan Soerjono Soekanto, proses tersebut terjadi dengan menyangkut dua aspek, yaitu: (a) berubahnya masyarakat desa menjadi masyarakat kota; (b) bertambahnya penduduk kota yang disebabkan oleh mengalirnya penduduk yang berasal dari desa-desa (pada umumnya disebabkan karena penduduk desa merasa tertarik oleh keadaan dikota). Saya melihat bahwa kemungkinan pertama (huruf a) diatas menjadi penyebab akan adanya perubahan budaya di desa. Suatu desa (terutama di Pulau Jawa) -mau tidak mau- akan berubah menjadi "desa industri". Pada awalnya hanya sebuah desa dengan industri sebagai penopang k...

Memanfaatkan Infrastruktur Jalan Tol dan Rel Kereta Api

Sumber: detik.com Tulisan ini saya fokuskan pada pembangunan jalan tol dan jalan kereta api. Kedua infrastruktur ini mempunyai ciri khas dalam merangsang pembangunan di daerah. Kedua infrastruktur ini bisa menjadi alat distribusi utama bagi industri-industri di daerah. Sumber: goodnewsfromindonesia.id Kalangan industri kurang "puas" menggunakan jalan arteri karena akan dihalangi oleh kemacetan di sana-sini. Jalan tol dan kereta api jelas memberi pengaruh besar dalam biaya distribusi barang yang diproduksi. Kalangan industri biasanya "bergairah" berinvestasi di daerah dimana ada kemudahan distribusi. Walaupun industri itu berada di daerah 'terpencil', apabila barang hasil produksi bisa disalurkan dengan aman dan nyaman maka biasanya industri bertumbuh di sana. Kebetulan, di daerah saya Kabupaten Garut akan dibangun jalan tol dan pengaktifan kembali jalan kereta api. Rel kereta ini sebetulnya  sudah ada sejak jaman penjajahan. Namun, tidak berfun...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Keotentikan Kultural: Modal Berselancar di Dunia Digital

Keotentikan kultural merupakan modal kita untuk "memenuhi" konten di dunia digital. Meskipun Barat punya teknologi informasi super canggih, tetapi kontennya kita bisa isi dengan "sumber lokal". Pernahkah kita berpikir, bagaimana mengisi media sosial yang menjadi keseharian kita. Sudah banyak bukti, bahwa media sosial dengan menampilkan 'konten lokal' punya "follower" setia. Pengikutnya, tidak hanya saudara senegara tetapi juga saudara dari mancanegara. Konsep ini sudah saya coba di Instagram. Saya menampilkan kondisi alam sekitar desa mulai dari flora, fauna hingga suasana kesehariannya. Ternyata, ada banyak orang yang tidak saya kenal menyukainya. Sayangnya, Bahasa Inggris saya yang jelek membuat saya kurang komunikatif. Keotentikan kultural merupakan gagasan yang perlu dipertimbangkan dalam menghadapi era informasi digital. Hal ini tidak saja berarti bahwa kultur-kultur tradisional, lingkungan dan nilai-nilai  harus dihormati. Tetapi, juga be...

Memahami Pola Kehidupan Sehari-hari

Jika suatu perjalanan hidup seseorang bisa dipahami polanya, maka dia tidak perlu "was-was" akan masa depannya. Seorang manusia bisa menerawang masa depannya meskipun saat ini dia belum bisa mewujudkan apa yang dipikirkannya. Saya membaca novel Origin karya Dan Brown. Disana ditulis, bahwa masa depan ummat manusia bisa 'diprediksi' dengan pola-pola komputerisasi. Namun, tentu saja harus ada data yang relevan. Selanjutnya, bagaimana kita memahami pola-pola kehidupan sehari-hari tanpa aplikasi komputer? 🔃 Saya mencoba belajar memahami cara berpikir anak kecil. Maksudnya, pola-pola pikiran itu diharapkan bisa membawa kita pada "bagaimana cara manusia belajar". Setelah tahu, orang dewasa tidak perlu lagi bersusah payah membuat "kurikulum" yang bersifat general. Bila anak sudah punya cara belajar sendiri, dia akan memahami sendiri pola-pola di kehidupannya sendiri. Pola belajar anak kecil ini sangat penting untuk "dipatenk...

Mengkombinasikan Belajar Aktual dan Digital

Cara belajar seperti ini bisa mengantisipasi ilmu masa kini yang tidak relevan di masa depan.