Langsung ke konten utama

Postingan

Menyambut Kawasan Industri di Desa Kami

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya sudah menulis tentang industrialisasi di pedesaan. Sekarang, apa yang dibayangkan  dalam pikiran perlahan menjadi kenyataan.  Salah satu tulisan tentang persepsi warga desa pada investasi asing , harus dibenahi terlebih dahulu sebelum investasi datang sebagaimana sekarang. Warga tidak menjadikan investasi asing sebagai pendatang yang akan merusak tatanan tetapi dianggap sebagai bagian dari solusi ketika begitu banyak kesulitan memperoleh pendapatan.  Ada lagi tulisan lain tentang paradigma yang harus ada dalam warga desa yakni paradigma industrialis . Sebuah paradigma untuk menambah nilai tambah pada suatu barang dan jasa. Warga desa tidak hanya melihat produk dari desa sebagai barang mentah yang tidak diolah terlebih dahulu sebelum dijual.   Andaikan paradigma tersebut sudah ada sejak lama maka ketika investasi datang ke desa setidaknya secara mental telah siap. Setelah sekian lama warga terbiasa dengan paradigma agraris, w...

Merasa Terjebak Dalam Budaya yang Tidak Sesuai Keinginan

  Pernahkah anda berpikir jika diri anda terlahir di tempat yang salah?  Merasa dilingkupi oleh budaya yang tidak membuat raga tak nyaman serta hati tak tenteram. Orang-orang di sekitar menjadi pihak yang senantiasa bertolak belakang dalam berbagai prinsip dan cara pandang terhadap dunia sekitarnya.  Saya pun terkadang merasa demikian. Merasa sulit untuk menerima jika ada "gap" antara harapan dan kenyataan. Bahkan terpikir jika diri ini salah tempat lahir. Dunia di sekitar kita malah menjadi beban psikologis bukannya pemicu untuk tetap berpikir maju.  Ada banyak hal yang tidak disetujui ketika mencermati budaya negeri sendiri. Misalnya, warga tidak peduli kepada masalah kerapihan dan kebersihan.  Di negeri ini, problematika sampah akan terus bergulir hingga generasi selanjutnya. Permasalahan bukan hanya dalam tataran teknis. Namun, saya yakin jika ini sudah menjadi masalah psikologis. Dimana setiap individu warga memang tidak berpikir jika kebersihan merupakan s...

Minat dan Bakat sebagai Modal Membangun Desa

Saya menelaah cukup lama hubungan antara minat dan bakat dengan pembangunan di pedesaan. Tentu saja bukan telaah sebagaimana seorang peneliti dari lembaga ilmiah mengenai suatu objek namun sekedar telaah dengan pandangan mata. Semata berdasarkan pengamatan sederhana kemudian disimpulkan sementara agar memperoleh pelajaran penting dari pengamatan tersebut.  Dalam beberapa waktu terakhir, saya mengamati jika orang-orang yang belum bisa menemukan minat dan bakatnya sejak dini memang akan dibingungkan oleh keadaan pedesaan yang minim stimulus. Di desa, rangsangan untuk berkreasi tidaklah sebanyak di perkotaan. Roda ekonomi yang berputar lambat ternyata tidak bisa menyadarkan seseorang akan minat dan bakatnya.  Dalam pengamatan saya, jikalau seseorang tidak mengikuti minat dan bakatnya, ternyata membuat dia frustasi bahkan menjadi pemalas. Dalam kehidupan di desa, orang-orang yang enggan bergerak dan bertindak sungguh kentara. Kesehariannya hanya diisi dengan keluh kesah tentang b...

Masa Depan Desa Ada Dalam Pikiran Anak-anak

  Saya bingung ketika harus menjawab pertanyaan, bagaimana masa depan desa kita? Awalnya, saya mencoba mencari jawabannya dalam buku dan beberapa literatur. Namun, pada akhirnya didapatlah kesimpulan jika masa depan desa ada dalam pikiran anak-anak. Menggali "informasi" tentang masa depan ada dalam pikiran anak. Memang hal yang terdengar mengherankan tetapi demikianlah adanya. Anak-anak memiliki alam pikiran yang disiapkan untuk menghadapi masa depan. Mereka masih jauh dari paparan budaya yang "tidak perlu". Ketika diajak untuk memikirkan masa depan maka anak akan bicara jujur. Mereka bicara apa adanya tanpa banyak pertimbangan. Saya bisa menyimpulkan demikian karena menyaksikan sendiri bagaimana orang dewasa kebingungan bagaimana menentukan masa depan desanya sendiri. Orang dewasa menjadi minim ide. Pikirannya masih terbelit masalah kebutuhan dasar. Saya percaya jika seorang anak dilahirkan pada suatu waktu dan tempat memiliki maksud tertentu. Berdasarkan atas peng...

Filsafat Mengutamakan Makanan

Memetik pepaya di pekarangan rumah (Dokpri.) Makanan, sebagai kebutuhan dasar keluarga tentu saja menjadi hal yang utama. Kami sekeluarga menyadari itu sejak lama.  Ketika kami punya sedikit uang maka hal yang terpikirkan adalah bagaimana uang itu bisa menjadi sumber makanan. Tetangga kami suka berinvetasi dalam bentuk rumah dan kendaraan, maka keluarga kami lebih suka menyisihkan harta untuk penyediaan pangan. Bapa saya suka membeli induk ikan agar nanti mereka beranak pinak. Sesekali membeli pakan ayam agar anak ayam bisa tumbuh besar dan bertambah banyak. Kalau musim tanam tiba, mending meminjam uang untuk modal menanam padi. Saya sendiri suka menanam buah-buahan. Mulai dari jambu, nangka, pisang hingga pepaya yang tumbuh tak sengaja. Sumber vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Dan, itu semua harganya murah. *** Mengutamakan makanan, bagi kami, sudah menjadi filsafat hidup. Sebuah dasar pemikiran untuk memperoleh kenikmatan hidup dan bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Fil...

Logika Matematika Tidak Cocok untuk Membangun Desa

Sudah bertahun-tahun saya hidup di desa. Selama ini pula saya mencari cara bagaimana membangun desa. Dimulai dari mencari landasan berpikir dalam bertindak hingga mempelajari hal-hal yang bersifat teknis. Dalam masa pencarian itu, saya mulai mendapati bahwa ada begitu banyak cara untuk membangun desa. Dan, cara-cara itu memiliki landasan berpikir yang berbeda antara satu sama lain.  Misalnya, jika kita bermaksud membangun selokan untuk mengairi sawah maka kita perlu berpijak pada hukum logika. Perhitungan matematis mutlak diterapkan.  Namun, ada juga hal yang tidak bisa dilandaskan pada pijakan berpikir logika matematika. Misalnya, ketika kita mengembangkan usaha ternak. Dalam mengembangkannya, peternakan memerlukan landasan berpikir non-logis. Karena, ternak-ternak itu adalah makhluk bernyawa yang tidak bisa diuukur secara matematis. Coba bayangkan, jika saya beternak 2 ekor domba. Dalam waktu tertentu domba itu bisa bertambah menjadi 3,4,5 dst. Namun, sangat mungkin domba sa...

Membangun Imaji sebagai Awal Membangun Manusia Pedesaaan

Orang desa yang sedang belajar (Dokpri.) Beberapa tulisan saya sebelumnya, sering membahas masalah pembangunan fisik seperti pembangunan industri dsb. Namun, saya mulai "melupakan" jika pembangunan pedesaan tidak melulu tentang membangun sarana fisik tetapi juga membangun manusia dan pola pikirnya. Manusia pedesaan bukan hanya sebagai objek pembangunan tetapi juga harus dianggap sebagai subjek pembangunan. Karena itu, orang desa harus diselidiki isi pikirannya sehingga kita tahu apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh orang desa. Manusia memiliki bekal besar untuk mengarungi kehidupan. Bekal itu adalah pikiran dalam dirinya. Dengan pikiran, kita bisa mengkhayalkan, merencanakan bahkan mengubah masa depan. Apa yang saya sampaikan bukan tentang suatu yang muluk-muluk. Ambil saja contoh kecil, bagaimana orang desa ingin memiliki tempat tinggal yang nyaman. Ternyata, itu berbeda-beda bergantung pada input pengetahuan yang dimilikinya. Antara saya dan Bapa saya sendiri memiliki p...