Langsung ke konten utama

Berpikir Kreatif, Harus!

Berpikir kreatif adalah proses psikologis untuk selalu menemukan hal-hal baru di sekitar kita. Bagaimana prosesnya tidak saya ceritakan di sini. Hal yang akan kita bicarakan di sini adalah bagaimana berpikir kreatif itu harus ada dalam pikiran orang desa, kenapa?
Sebenarnya semua orang harus punya pikiran kreatif. Membuat, menemukan, mencipta atau memodifikasi yang sudah ada. Kurang lebih begitulah. Berpikir kreatif merupakan cara berpikir manusia pembangunan. Tanpa pemikiran ini warga desa hanya akan menjaidi pengikut dari apa yang sudah ada, tanpa perubahan. Celakanya, jika tidak berpikir kreatif warga desa hanya akan menjadi objek pembangunan bukan subjek pembangunan, tidak bisa menentukan nasibnya sendiri.
Secara kasat mata adakah bedanya orang yang berpikir kreatif dengan yang tidak? Tentu. Lihat saja bagaimana para petani yang selalu memperbaiki cara mereka bercocok tanam. Ada juga yang selalu ‘bertahan’ dengan cara-cara lama. Tidak ada kemauan untuk lebih baik dan lebih maju lagi, dan lagi. Pernah dengan prinsip Keizen, ya itulah berpikir kreatif. Selalu terus-menerus berinovasi untuk perbaikan keadaan, tidak pernah puas dengan apa yang ada sekarang.
Pola pikir  kreatif ini memang harus ditanamkan sejak dini.  Pendidikan keluarga merangsang anak untuk menjadi kreatif dengan berbagai macam permainan. Bentuk lingkungan yang bisa menunjang pembelajaran mereka. Jangan pernah terlalu mengekang anak. Awasi saja. Biarkan anak bereksplorasi dengan alam di sekitarnya. Tanah, air dan segala material di sekitarnya adalah laboratorium alam yang bisa membentuk pikiran, perilaku serta fisik mereka.
Dimasa depan anak-anak kreatif akan menjadi manusia pembangunan yang menjadikan desanya berdaya guna. Setiap  jengkal tanah leluhurnya adalah modal berharga untuk membawa bangsanya ke pentas dunia. Tidak ada kebingungan dalam melangkah karena otaknya telah terisi dengan berbagai informasi  yang siap untuk ‘dimuntahkan’. Simpul-simpul syarafnya bersinergi mengeluarkan ide-ide yang bisa membuat banyak orang berdecak kagum.
Banyak gedung, mesin atau bahkan pemerintahan yang telah mereka kembangkan. Tanpa kesemrawutan dan kelimpungan. Ekonomi akan terus tumbuh menuju angka tertinggi dalam sejarah bangsanya. Daerah tempat tinggal orang-orang kreatif akan terus tumbuh menjadi daerah industri, agribisnis atau area pariwisata. Semua bisa menjadi pendapatan bagi diri, keluarga dan daerahnya.
Orang akan berduyun-duyun mendatanginya karena mereka punya solusi dari setiap masalah yang dihadapi. Mereka punyak produk yang bisa dijual hingga lintas benua. Semuanya datang dari sebuah desa yang bahkan di peta pun tidak tertulis apa namanya. Tetapi Google Map akan menunjukan dimana letaknya karena banyak artikel di internet yang membicarakannya. Namanya harum  berkat kecerdasan warganya.
Semua yang ditulis seakan sebuah harapan besar penulis. Tetapi begitulah adanya, kenapa banyak  daerah di belahan dunia manapun menjadi buah bibir berkat kemajuannya. Semua bermula dari isi kepala warga-warganya. Era teknologi informasi membantunya menyebarkan setiap tindakan yang akan tercatat dalam sejarah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...