Langsung ke konten utama

Postingan

Rendah Hatilah dalam Menyampaikan Pengetahuan

  Jika saja saya membaca buku ini sekira 30-20 tahun lalu maka kemungkinan bisa merancang sendiri pelajaran apa yang dibutuhkan. Bisa mempelajari hal yang berbasis minat, bakat serta potensi di sekitar tanpa harus terlalu banyak input pengetahuan lain. Pada awalnya, saya merupakan tipe anak yang penurut dan percaya pada apa yang dibicarakan oleh orang dewasa. Perkataan mereka adalah sebuah kebenaran. Bahkan, nasihat orang dewasa berlandaskan suatu filsafat yang memiliki makna mendalam. Ternyata, tidak demikian.  Ada saatnya, ketika orang dewasa bicara kepada anak-anak hanyalah sebuah cara untuk menunjukkan kekuasaan. Hal yang dibicarakan hanyalah sebuah asumsi, opini atau sekedar cara untuk menutupi kelemahan diri. Terkadang, orang dewasa enggan terlihat  lemah di depan anak-anak. Makanya, mereka menjadi sangat banyak bicara. Membicarakan pengalaman yang tidak relevan dengan zaman seakan hal demikian merupakan pertaruhan. Semata membanggakan diri jika mereka telah melakuk...

Bangga dengan Harta Produktif

Kebanggaan akan harta, itu hal lumrah bagi seorang manusia. Harta sebagai simbol dari hasil jerih payah kita setelah menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam bekerja. Karena harta pula, derajat Anda terangkat secara otomatis tanpa harus ada upacara penyematan lencana atau tanda pangkat. Anda punya banyak harta maka warga pasti akan mencap sebagai orang kaya.  Hanya saja, kebanggaan akan harta akan lebih bermakna bagi banyak orang apabila berbentuk harta produktif. Warga akan menilai Anda sebagai orang kaya yang layak dibela. Mereka yang merasakan manfaat dari kekayaan yang berlimpah akan sama merasa kehilangan jika suatu saat aset tersebut pergi.  Andaikan kita punya sawah yang luas, maka akan banyak warga yang dilibatkan tatkala musim tanam dan musim panen tiba. Orang yang mempekerjakan banyak tenaga sama dengan sedekah yang menghidupi setidaknya tiga orang manusia. Si buruh tani, istrinya serta minimal satu orang anak.  Apabila Tuan dan Puan bangga akan aset sebuah pa...

Fungsi Kalénder Hanya Penanda Tanggal Bukan Penanda Musim

  Kalender tidak lagi berfungsi sebagai penanda musim. Hal tersebut bisa kami konfirmasi.   Dunia tidak lagi sinkron dengan kalender. Hal tersebut bukan karena peredaran bumi terhadap matahari berubah apalagi keluar dari orbit. Begitupula, bulan tidak pernah melenceng dari jalur semestinya dia mengitari bumi.  Semua terjadi karena ulah manusia.   Namun, saya tidak akan membicarakan hal tersebut terlalu panjang lebar. Mari kita membicarakan hal yang sederhana dimana kebetulan terjadi di depan mata. Bukan perkara politik global atau wacana pergantian kekuasaan. Ini tentang peran kalénder yang tidak berguna. Tentu hanya pada situasi tertentu, kalender menjadi tidak berguna. Misal, perkara memprediksi kenaikan harga bahan pangan.  Coba perhatikan, kenaikan harga biasa terjadi beberapa hari menjelang hari raya. Mungkin semata faktor budaya konsumsi yang meningkat pada momen Lebaran. Kapan tahu akan ada peningkatan permintaan tentu setelah melihat kalender. ...

Jadwal Musim Tanam yang Bergeser

  Jadwal tanam kali ini bergeser jika dibandingkan dengan jadwal tanam sebelumnya. Bisa dilihat dalam foto, ketika saya memotretnya hari ini 12/2/2024 para petani baru saja menanam bibit padi di sawah.  Hal yang dirasa kurang menggembirakan. Ternyata perubahan iklim benar-benar berdampak kepada jadwal para petani menanam padi . Saya khawatir jika hal ini pun akan berimbas kepada pasokan pangan dalam skala komunitas maupun skala regional.  Padi milik petani sisa musim tanam sebelumnya sudah berkurang banyak. Di gudang, cadangan pun mulai menipis.  Mungkin saja situasi ini berimbas kepada harga beras di pasar. Pasokan yang berkurang membuat orang berebut pangan kemudian harga merangkak naik. Jika diperhatikan, ini bukanlah sesuatu yang belum diprediksi. Sudah jauh-jauh hari Al Gore _mantan wapres AS_ memperingatkan jika perubahan iklim dan dampak kepada pasokan pangan adalah nyata . Bukan isapan jempol belaka.  Dampak perubahan iklim bisa terjadi hingga pereb...

Berada dalam Dua Dimensi Masa

Dimensi masa yang saya maksud tentu saja bukan lorong waktu. Sebuah portal yang dibuat selayaknya Doktor Strange, bukan itu. Tetapi, kami warga desa dihadapkan pada generasi yang merasa jika masa lampau masih menjadi andalan untuk menetapkan arah hidup. Kemudian ada generasi yang selalu menatap masa depan sekaligus bergairah meninggalkan cara-cara lama.  Pada mulanya, saya kebingungan bagaimana membaca pola maksud dari para orang tua yang enggan mengubah cara-cara lama. Sekaligus, saya pun harus bisa mengerti orang-orang yang sekuat tenaga ingin mengubah cara hidup yang dianggap usang.  Adakalanya, saya harus tetap menggunakan cara-cara lama dengan berbagai alasan. Misalnya, demi menghemat biaya maka bercocok tanam pun tetap menggunakan cara tradisional yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Namun, adakalanya saya pun harus berpikir tentang kemungkinan masa depan. Misalnya, bagaimana memutuskan untuk berinvestasi di ranah digital.  Terkadang saya merasa kelelahan ...

Menyambut Kawasan Industri di Desa Kami

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya sudah menulis tentang industrialisasi di pedesaan. Sekarang, apa yang dibayangkan  dalam pikiran perlahan menjadi kenyataan.  Salah satu tulisan tentang persepsi warga desa pada investasi asing , harus dibenahi terlebih dahulu sebelum investasi datang sebagaimana sekarang. Warga tidak menjadikan investasi asing sebagai pendatang yang akan merusak tatanan tetapi dianggap sebagai bagian dari solusi ketika begitu banyak kesulitan memperoleh pendapatan.  Ada lagi tulisan lain tentang paradigma yang harus ada dalam warga desa yakni paradigma industrialis . Sebuah paradigma untuk menambah nilai tambah pada suatu barang dan jasa. Warga desa tidak hanya melihat produk dari desa sebagai barang mentah yang tidak diolah terlebih dahulu sebelum dijual.   Andaikan paradigma tersebut sudah ada sejak lama maka ketika investasi datang ke desa setidaknya secara mental telah siap. Setelah sekian lama warga terbiasa dengan paradigma agraris, w...

Merasa Terjebak Dalam Budaya yang Tidak Sesuai Keinginan

  Pernahkah anda berpikir jika diri anda terlahir di tempat yang salah?  Merasa dilingkupi oleh budaya yang tidak membuat raga tak nyaman serta hati tak tenteram. Orang-orang di sekitar menjadi pihak yang senantiasa bertolak belakang dalam berbagai prinsip dan cara pandang terhadap dunia sekitarnya.  Saya pun terkadang merasa demikian. Merasa sulit untuk menerima jika ada "gap" antara harapan dan kenyataan. Bahkan terpikir jika diri ini salah tempat lahir. Dunia di sekitar kita malah menjadi beban psikologis bukannya pemicu untuk tetap berpikir maju.  Ada banyak hal yang tidak disetujui ketika mencermati budaya negeri sendiri. Misalnya, warga tidak peduli kepada masalah kerapihan dan kebersihan.  Di negeri ini, problematika sampah akan terus bergulir hingga generasi selanjutnya. Permasalahan bukan hanya dalam tataran teknis. Namun, saya yakin jika ini sudah menjadi masalah psikologis. Dimana setiap individu warga memang tidak berpikir jika kebersihan merupakan s...