Langsung ke konten utama

Postingan

Membangun Imaji sebagai Awal Membangun Manusia Pedesaaan

Orang desa yang sedang belajar (Dokpri.) Beberapa tulisan saya sebelumnya, sering membahas masalah pembangunan fisik seperti pembangunan industri dsb. Namun, saya mulai "melupakan" jika pembangunan pedesaan tidak melulu tentang membangun sarana fisik tetapi juga membangun manusia dan pola pikirnya. Manusia pedesaan bukan hanya sebagai objek pembangunan tetapi juga harus dianggap sebagai subjek pembangunan. Karena itu, orang desa harus diselidiki isi pikirannya sehingga kita tahu apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh orang desa. Manusia memiliki bekal besar untuk mengarungi kehidupan. Bekal itu adalah pikiran dalam dirinya. Dengan pikiran, kita bisa mengkhayalkan, merencanakan bahkan mengubah masa depan. Apa yang saya sampaikan bukan tentang suatu yang muluk-muluk. Ambil saja contoh kecil, bagaimana orang desa ingin memiliki tempat tinggal yang nyaman. Ternyata, itu berbeda-beda bergantung pada input pengetahuan yang dimilikinya. Antara saya dan Bapa saya sendiri memiliki p...

Menggali Pengetahuan dari Sekitar Kita

  Rencana belajar yang saya tulis di jendela. Jika kita sudah tahu apa yang dibutuhkan maka biasanya tahu juga ilmu apa yang harus dipelajari. Begitupun ilmu yang digali dari desa, tidak serta-merta diambil begitu saja tanpa mengetahui apa kegunaannya.  Ya, kerangka pengetahuan yang harus terlebih dahulu dimiliki sebelum menggali atau mengambil pengetahuan yang "berserakan" di sekitar kita. Kerangka pengetahuan ini memang tidak diajarkan di sekolah. Dan, saya pun memahami kenapa itu tidak dilakukan karena filosofi belajar setiap orang berbeda-beda. Kerangka pengetahuan yang saya maksudkan adalah semacam program belajar selayaknya kita mengarungi kehidupan sehari-hari. Jika di sekolah ada yang namanya kurikulum, maka dalam kehidupan manusia dewasa pun kurikulum itu harus ada. Hanya saja, membentuk kurikulum belajar seorang manusia dewasa jelas tidak bisa disamaratakan untuk setiap orang. Agar lebih mudah, kerangka belajar kita haruslah mengacu pada cita-cita kita untuk apa hid...

Menjaga Suasana Desa

Suasana desa yang khas harus selalu terjaga meskipun kultur suatu desa bisa berubah. Apabila tadinya desa itu berbasis pertanian kemudian berubah menjadi desa berbasis industri bukan berarti alam sekitarnya harus berubah. Hewan-hewan yang menjadi pembawa suasana itu harus tetap dilestarikan. Terutama burung yang bisa migrasi ke sana ke mari. Adanya perubahan kontur atau lanskap suatu desa, masih bisa dikunjungi si burung selama mereka nyaman hidup berdampingan dengan manusia. Kuntul adalah salah satu burung yang bisa hidup berdampingan dengan manusia. Saya membayangkan jika sekitar pemukiman ada danau buatan untuk kehidupan si kuntul. Jika sawah sudah tidak ada maka danau mesti ada sebagai tempat mereka mencari makan dan bersarang. Kita tidak usah membayangkan jika industrialisasi pedesaan mengubah kehidupan secara keseluruhan. Karena, bagaimanapun manusia industri perlu ditemani oleh teman lamanya yakni hewan-hewan dan tumbuhan. Jika nanti terpaksa harus membangun pabrik, maka menyedi...

Pembangunan Bukan Kerumunan

Ketika kita berkerumun bersama-sama orang-orang terdekat, diam saja tanpa bergerak maka itu tidak bisa disebut pembangunan. Pembangunan dimulai dari keterlibatan banyak pihak, walaupun tidak selalu serentak. Dalam pembangunan, perlu ada yang berperan sebagai penggerak dan yang digerakan. Jika semua bergerak begitu saja seperti suporter sepakbola, maka pembangunan tidak akan berjalan. Bagi kerumunan, sekelompok orang yang tidak terorganisir, maka pembangunan seperti gerakan spontan tanpa perencanaan. Padahal, pembangunan perlu landasan filosofis hingga perencanaan yang matang. Landasan filosofis berfungsi menggerakan sedangkan kerumunan bergerak tanpa landasan yang jelas. Kalaulah manusia hanya berduyun-duyun mengarungi zaman, apakah pembangunan akan berjalan? Lebah saja bisa memiliki pemikiran yang sama untuk membangun sebuah sarang, tetapi kenapa manusia sering sulit memiliki  visi yang sama untuk membangun bersama. Mari kita renungkan kembali tujuan kita hidup saling berdampingan...

Filosofi Dari Tingkah Alam

 Begitulah kenyataan yang saya saksikan di sekitar rumah. Buah mangga malah menjadi bahan makanan kelelawar. Dahulu, Bapa saya menanam pohon mangga untuk konsumsi keluarga tetapi keluarga satwa juga menikmati hasilnya. Ketika kita meniatkan "menanam" banyak hal maka sudah sewajarnya untuk dinikmati oleh orang lain bahkan makhluk lain. Ingat umur, karena inveatasi hari ini belum tentu bisa dinikmati hari ini juga.  Saya suka kagum pada cara berpikir orang Cina. Mereka suka memikirkan tiga generasi. Generasi dirinya, anaknya dan cucunya. Dengan begitu, apa yang dirasakan saat ini dan nanti adalah buah karya dari orang-orang menanam sebelumnya.

Berpikir Besar, Terlaksanakah?

Ilustrasi: aquariuslearning.co.id Memikirkan hal-hal besar dalam hidup, mungkin biasa bagi bangsa besar yang menguasai peradaban dunia. Hasil dari pemikiran besar mereka di masa lalu, kini sudah terwujud. Jadi, jika anak-cucu mereka berpikir jauh lebih besar ya wajar. Berpikir besar, bagi saya, belum menjadi bagian dari budaya keluarga. Kami masih disibukan dengan pemikiran bagaimana memenuhi kebutuhan dasar. Makanya, jangan aneh jika kebutuhan dasar sudah terpenuhi tidak ada lagi gairah untuk memikirkan atau melakukan hal lain. Pensiun. Imajinasi hari tua yang sejahtera dan bahagia memang menjadi tujuan banyak orang. Sayangnya, setelah pensiun ya _maaf_ hanya menunggu kematian. Nyaris tidak ada harapan untuk membangun warisan lebih besar kepada sanak keluarganya. Keberadaan seseorang tidak terlalu berpengaruh pada peradaban. Terlalu egois, karena hanya memikirkan isi perut masing-masing. *** Memang menjadi pertanyaan besar, apakah berpikir besar bisa terlaksana? Saya sudah mencari di ...

Sikap 'Bertahan' Di Tengah Peradaban, Sungguh Merugikan

  Taktik sepakbola menyerang. (Ilustrasi: Bandit Football) "Taktik terbaik untuk bertahan adalah menyerang." Ditengah peradaban yang serba kompleks, sekedar "bertahan" untuk hidup hanyalah kerugian. Saya, tumbuh di tengah peradaban yang lebih banyak bertahan dibanding menyerang. Sebagai orang Sunda, bertahan dari serbuan bangsa lain sudah menjadi bagian dari budaya. Berdasarkan sejarah yang saya baca, sikap orang Sunda ini malah menjadi prinsip yang dilihat sebagai kekuatan tetapi nyatanya adalah bentuk kelemahan. Bertahan dari serbuan budaya lain, tepatnya dominasi peradaban bangsa lain, hanya bisa bertahan dalam jangka pendek. Juga, hanya berlaku pada manusia-manusia idealis yang jumlahnya sedikit. Lama-kelamaan kemampuan bertahan itu akan "bobol" juga. Ketika pertahanan sudah rapuh, maka dengan mudah bangsa lain memporakporandakan bangunan budaya yang tercipta sejak lama. Lalu, kita hanya gigit jari dan merasakan penyesalan teramat dalam karena tidak me...