Langsung ke konten utama

Postingan

Masa Depan Desa Ada Dalam Pikiran Anak-anak

  Saya bingung ketika harus menjawab pertanyaan, bagaimana masa depan desa kita? Awalnya, saya mencoba mencari jawabannya dalam buku dan beberapa literatur. Namun, pada akhirnya didapatlah kesimpulan jika masa depan desa ada dalam pikiran anak-anak. Menggali "informasi" tentang masa depan ada dalam pikiran anak. Memang hal yang terdengar mengherankan tetapi demikianlah adanya. Anak-anak memiliki alam pikiran yang disiapkan untuk menghadapi masa depan. Mereka masih jauh dari paparan budaya yang "tidak perlu". Ketika diajak untuk memikirkan masa depan maka anak akan bicara jujur. Mereka bicara apa adanya tanpa banyak pertimbangan. Saya bisa menyimpulkan demikian karena menyaksikan sendiri bagaimana orang dewasa kebingungan bagaimana menentukan masa depan desanya sendiri. Orang dewasa menjadi minim ide. Pikirannya masih terbelit masalah kebutuhan dasar. Saya percaya jika seorang anak dilahirkan pada suatu waktu dan tempat memiliki maksud tertentu. Berdasarkan atas peng...

Filsafat Mengutamakan Makanan

Memetik pepaya di pekarangan rumah (Dokpri.) Makanan, sebagai kebutuhan dasar keluarga tentu saja menjadi hal yang utama. Kami sekeluarga menyadari itu sejak lama.  Ketika kami punya sedikit uang maka hal yang terpikirkan adalah bagaimana uang itu bisa menjadi sumber makanan. Tetangga kami suka berinvetasi dalam bentuk rumah dan kendaraan, maka keluarga kami lebih suka menyisihkan harta untuk penyediaan pangan. Bapa saya suka membeli induk ikan agar nanti mereka beranak pinak. Sesekali membeli pakan ayam agar anak ayam bisa tumbuh besar dan bertambah banyak. Kalau musim tanam tiba, mending meminjam uang untuk modal menanam padi. Saya sendiri suka menanam buah-buahan. Mulai dari jambu, nangka, pisang hingga pepaya yang tumbuh tak sengaja. Sumber vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Dan, itu semua harganya murah. *** Mengutamakan makanan, bagi kami, sudah menjadi filsafat hidup. Sebuah dasar pemikiran untuk memperoleh kenikmatan hidup dan bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Fil...

Logika Matematika Tidak Cocok untuk Membangun Desa

Sudah bertahun-tahun saya hidup di desa. Selama ini pula saya mencari cara bagaimana membangun desa. Dimulai dari mencari landasan berpikir dalam bertindak hingga mempelajari hal-hal yang bersifat teknis. Dalam masa pencarian itu, saya mulai mendapati bahwa ada begitu banyak cara untuk membangun desa. Dan, cara-cara itu memiliki landasan berpikir yang berbeda antara satu sama lain.  Misalnya, jika kita bermaksud membangun selokan untuk mengairi sawah maka kita perlu berpijak pada hukum logika. Perhitungan matematis mutlak diterapkan.  Namun, ada juga hal yang tidak bisa dilandaskan pada pijakan berpikir logika matematika. Misalnya, ketika kita mengembangkan usaha ternak. Dalam mengembangkannya, peternakan memerlukan landasan berpikir non-logis. Karena, ternak-ternak itu adalah makhluk bernyawa yang tidak bisa diuukur secara matematis. Coba bayangkan, jika saya beternak 2 ekor domba. Dalam waktu tertentu domba itu bisa bertambah menjadi 3,4,5 dst. Namun, sangat mungkin domba sa...

Membangun Imaji sebagai Awal Membangun Manusia Pedesaaan

Orang desa yang sedang belajar (Dokpri.) Beberapa tulisan saya sebelumnya, sering membahas masalah pembangunan fisik seperti pembangunan industri dsb. Namun, saya mulai "melupakan" jika pembangunan pedesaan tidak melulu tentang membangun sarana fisik tetapi juga membangun manusia dan pola pikirnya. Manusia pedesaan bukan hanya sebagai objek pembangunan tetapi juga harus dianggap sebagai subjek pembangunan. Karena itu, orang desa harus diselidiki isi pikirannya sehingga kita tahu apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh orang desa. Manusia memiliki bekal besar untuk mengarungi kehidupan. Bekal itu adalah pikiran dalam dirinya. Dengan pikiran, kita bisa mengkhayalkan, merencanakan bahkan mengubah masa depan. Apa yang saya sampaikan bukan tentang suatu yang muluk-muluk. Ambil saja contoh kecil, bagaimana orang desa ingin memiliki tempat tinggal yang nyaman. Ternyata, itu berbeda-beda bergantung pada input pengetahuan yang dimilikinya. Antara saya dan Bapa saya sendiri memiliki p...

Menggali Pengetahuan dari Sekitar Kita

  Rencana belajar yang saya tulis di jendela. Jika kita sudah tahu apa yang dibutuhkan maka biasanya tahu juga ilmu apa yang harus dipelajari. Begitupun ilmu yang digali dari desa, tidak serta-merta diambil begitu saja tanpa mengetahui apa kegunaannya.  Ya, kerangka pengetahuan yang harus terlebih dahulu dimiliki sebelum menggali atau mengambil pengetahuan yang "berserakan" di sekitar kita. Kerangka pengetahuan ini memang tidak diajarkan di sekolah. Dan, saya pun memahami kenapa itu tidak dilakukan karena filosofi belajar setiap orang berbeda-beda. Kerangka pengetahuan yang saya maksudkan adalah semacam program belajar selayaknya kita mengarungi kehidupan sehari-hari. Jika di sekolah ada yang namanya kurikulum, maka dalam kehidupan manusia dewasa pun kurikulum itu harus ada. Hanya saja, membentuk kurikulum belajar seorang manusia dewasa jelas tidak bisa disamaratakan untuk setiap orang. Agar lebih mudah, kerangka belajar kita haruslah mengacu pada cita-cita kita untuk apa hid...

Menjaga Suasana Desa

Suasana desa yang khas harus selalu terjaga meskipun kultur suatu desa bisa berubah. Apabila tadinya desa itu berbasis pertanian kemudian berubah menjadi desa berbasis industri bukan berarti alam sekitarnya harus berubah. Hewan-hewan yang menjadi pembawa suasana itu harus tetap dilestarikan. Terutama burung yang bisa migrasi ke sana ke mari. Adanya perubahan kontur atau lanskap suatu desa, masih bisa dikunjungi si burung selama mereka nyaman hidup berdampingan dengan manusia. Kuntul adalah salah satu burung yang bisa hidup berdampingan dengan manusia. Saya membayangkan jika sekitar pemukiman ada danau buatan untuk kehidupan si kuntul. Jika sawah sudah tidak ada maka danau mesti ada sebagai tempat mereka mencari makan dan bersarang. Kita tidak usah membayangkan jika industrialisasi pedesaan mengubah kehidupan secara keseluruhan. Karena, bagaimanapun manusia industri perlu ditemani oleh teman lamanya yakni hewan-hewan dan tumbuhan. Jika nanti terpaksa harus membangun pabrik, maka menyedi...

Pembangunan Bukan Kerumunan

Ketika kita berkerumun bersama-sama orang-orang terdekat, diam saja tanpa bergerak maka itu tidak bisa disebut pembangunan. Pembangunan dimulai dari keterlibatan banyak pihak, walaupun tidak selalu serentak. Dalam pembangunan, perlu ada yang berperan sebagai penggerak dan yang digerakan. Jika semua bergerak begitu saja seperti suporter sepakbola, maka pembangunan tidak akan berjalan. Bagi kerumunan, sekelompok orang yang tidak terorganisir, maka pembangunan seperti gerakan spontan tanpa perencanaan. Padahal, pembangunan perlu landasan filosofis hingga perencanaan yang matang. Landasan filosofis berfungsi menggerakan sedangkan kerumunan bergerak tanpa landasan yang jelas. Kalaulah manusia hanya berduyun-duyun mengarungi zaman, apakah pembangunan akan berjalan? Lebah saja bisa memiliki pemikiran yang sama untuk membangun sebuah sarang, tetapi kenapa manusia sering sulit memiliki  visi yang sama untuk membangun bersama. Mari kita renungkan kembali tujuan kita hidup saling berdampingan...