Langsung ke konten utama

Postingan

Fungsi Kalénder Hanya Penanda Tanggal Bukan Penanda Musim

  Kalender tidak lagi berfungsi sebagai penanda musim. Hal tersebut bisa kami konfirmasi.   Dunia tidak lagi sinkron dengan kalender. Hal tersebut bukan karena peredaran bumi terhadap matahari berubah apalagi keluar dari orbit. Begitupula, bulan tidak pernah melenceng dari jalur semestinya dia mengitari bumi.  Semua terjadi karena ulah manusia.   Namun, saya tidak akan membicarakan hal tersebut terlalu panjang lebar. Mari kita membicarakan hal yang sederhana dimana kebetulan terjadi di depan mata. Bukan perkara politik global atau wacana pergantian kekuasaan. Ini tentang peran kalénder yang tidak berguna. Tentu hanya pada situasi tertentu, kalender menjadi tidak berguna. Misal, perkara memprediksi kenaikan harga bahan pangan.  Coba perhatikan, kenaikan harga biasa terjadi beberapa hari menjelang hari raya. Mungkin semata faktor budaya konsumsi yang meningkat pada momen Lebaran. Kapan tahu akan ada peningkatan permintaan tentu setelah melihat kalender. ...

Jadwal Musim Tanam yang Bergeser

  Jadwal tanam kali ini bergeser jika dibandingkan dengan jadwal tanam sebelumnya. Bisa dilihat dalam foto, ketika saya memotretnya hari ini 12/2/2024 para petani baru saja menanam bibit padi di sawah.  Hal yang dirasa kurang menggembirakan. Ternyata perubahan iklim benar-benar berdampak kepada jadwal para petani menanam padi . Saya khawatir jika hal ini pun akan berimbas kepada pasokan pangan dalam skala komunitas maupun skala regional.  Padi milik petani sisa musim tanam sebelumnya sudah berkurang banyak. Di gudang, cadangan pun mulai menipis.  Mungkin saja situasi ini berimbas kepada harga beras di pasar. Pasokan yang berkurang membuat orang berebut pangan kemudian harga merangkak naik. Jika diperhatikan, ini bukanlah sesuatu yang belum diprediksi. Sudah jauh-jauh hari Al Gore _mantan wapres AS_ memperingatkan jika perubahan iklim dan dampak kepada pasokan pangan adalah nyata . Bukan isapan jempol belaka.  Dampak perubahan iklim bisa terjadi hingga pereb...

Berada dalam Dua Dimensi Masa

Dimensi masa yang saya maksud tentu saja bukan lorong waktu. Sebuah portal yang dibuat selayaknya Doktor Strange, bukan itu. Tetapi, kami warga desa dihadapkan pada generasi yang merasa jika masa lampau masih menjadi andalan untuk menetapkan arah hidup. Kemudian ada generasi yang selalu menatap masa depan sekaligus bergairah meninggalkan cara-cara lama.  Pada mulanya, saya kebingungan bagaimana membaca pola maksud dari para orang tua yang enggan mengubah cara-cara lama. Sekaligus, saya pun harus bisa mengerti orang-orang yang sekuat tenaga ingin mengubah cara hidup yang dianggap usang.  Adakalanya, saya harus tetap menggunakan cara-cara lama dengan berbagai alasan. Misalnya, demi menghemat biaya maka bercocok tanam pun tetap menggunakan cara tradisional yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Namun, adakalanya saya pun harus berpikir tentang kemungkinan masa depan. Misalnya, bagaimana memutuskan untuk berinvestasi di ranah digital.  Terkadang saya merasa kelelahan ...

Menyambut Kawasan Industri di Desa Kami

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya sudah menulis tentang industrialisasi di pedesaan. Sekarang, apa yang dibayangkan  dalam pikiran perlahan menjadi kenyataan.  Salah satu tulisan tentang persepsi warga desa pada investasi asing , harus dibenahi terlebih dahulu sebelum investasi datang sebagaimana sekarang. Warga tidak menjadikan investasi asing sebagai pendatang yang akan merusak tatanan tetapi dianggap sebagai bagian dari solusi ketika begitu banyak kesulitan memperoleh pendapatan.  Ada lagi tulisan lain tentang paradigma yang harus ada dalam warga desa yakni paradigma industrialis . Sebuah paradigma untuk menambah nilai tambah pada suatu barang dan jasa. Warga desa tidak hanya melihat produk dari desa sebagai barang mentah yang tidak diolah terlebih dahulu sebelum dijual.   Andaikan paradigma tersebut sudah ada sejak lama maka ketika investasi datang ke desa setidaknya secara mental telah siap. Setelah sekian lama warga terbiasa dengan paradigma agraris, w...

Merasa Terjebak Dalam Budaya yang Tidak Sesuai Keinginan

  Pernahkah anda berpikir jika diri anda terlahir di tempat yang salah?  Merasa dilingkupi oleh budaya yang tidak membuat raga tak nyaman serta hati tak tenteram. Orang-orang di sekitar menjadi pihak yang senantiasa bertolak belakang dalam berbagai prinsip dan cara pandang terhadap dunia sekitarnya.  Saya pun terkadang merasa demikian. Merasa sulit untuk menerima jika ada "gap" antara harapan dan kenyataan. Bahkan terpikir jika diri ini salah tempat lahir. Dunia di sekitar kita malah menjadi beban psikologis bukannya pemicu untuk tetap berpikir maju.  Ada banyak hal yang tidak disetujui ketika mencermati budaya negeri sendiri. Misalnya, warga tidak peduli kepada masalah kerapihan dan kebersihan.  Di negeri ini, problematika sampah akan terus bergulir hingga generasi selanjutnya. Permasalahan bukan hanya dalam tataran teknis. Namun, saya yakin jika ini sudah menjadi masalah psikologis. Dimana setiap individu warga memang tidak berpikir jika kebersihan merupakan s...

Minat dan Bakat sebagai Modal Membangun Desa

Saya menelaah cukup lama hubungan antara minat dan bakat dengan pembangunan di pedesaan. Tentu saja bukan telaah sebagaimana seorang peneliti dari lembaga ilmiah mengenai suatu objek namun sekedar telaah dengan pandangan mata. Semata berdasarkan pengamatan sederhana kemudian disimpulkan sementara agar memperoleh pelajaran penting dari pengamatan tersebut.  Dalam beberapa waktu terakhir, saya mengamati jika orang-orang yang belum bisa menemukan minat dan bakatnya sejak dini memang akan dibingungkan oleh keadaan pedesaan yang minim stimulus. Di desa, rangsangan untuk berkreasi tidaklah sebanyak di perkotaan. Roda ekonomi yang berputar lambat ternyata tidak bisa menyadarkan seseorang akan minat dan bakatnya.  Dalam pengamatan saya, jikalau seseorang tidak mengikuti minat dan bakatnya, ternyata membuat dia frustasi bahkan menjadi pemalas. Dalam kehidupan di desa, orang-orang yang enggan bergerak dan bertindak sungguh kentara. Kesehariannya hanya diisi dengan keluh kesah tentang b...

Masa Depan Desa Ada Dalam Pikiran Anak-anak

  Saya bingung ketika harus menjawab pertanyaan, bagaimana masa depan desa kita? Awalnya, saya mencoba mencari jawabannya dalam buku dan beberapa literatur. Namun, pada akhirnya didapatlah kesimpulan jika masa depan desa ada dalam pikiran anak-anak. Menggali "informasi" tentang masa depan ada dalam pikiran anak. Memang hal yang terdengar mengherankan tetapi demikianlah adanya. Anak-anak memiliki alam pikiran yang disiapkan untuk menghadapi masa depan. Mereka masih jauh dari paparan budaya yang "tidak perlu". Ketika diajak untuk memikirkan masa depan maka anak akan bicara jujur. Mereka bicara apa adanya tanpa banyak pertimbangan. Saya bisa menyimpulkan demikian karena menyaksikan sendiri bagaimana orang dewasa kebingungan bagaimana menentukan masa depan desanya sendiri. Orang dewasa menjadi minim ide. Pikirannya masih terbelit masalah kebutuhan dasar. Saya percaya jika seorang anak dilahirkan pada suatu waktu dan tempat memiliki maksud tertentu. Berdasarkan atas peng...