Langsung ke konten utama

Kesulitan Mencari Tenaga Kerja Ketika Masa Panen Tiba

Panen tiba.


Bapak saya mengeluhkan sulitnya mencari buruh tani untuk memanen padi. Kondisi ini memang sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Saat itu, masih banyak para buruh tani yang bersedia untuk memanen padi milik orang lain. Namun, saat ini kesulitan itu mulai terasa ketika para petani membutuhkan tenaga tambahan untuk menyabit, mengerek dan mengangkut gabah.
Saya cukup terkejut dengan situasi seperti ini. Ternyata ada kesulitan yang sebenarnya tidak perlu terjadi mengingat jumlah orang terus bertambah. Lalu kenapa? Mungkin, jumlah orang yang berurbanisasi lebih banyak dibandingkan yang menetap di desa. Sudah menjadi gejala umum ketika menginjak usia angkatan kerja orang di desa kami berurbanisasi ke perkotaan.
Selain itu, tidak banyak orang yang tertarik untuk terjun kedalam dunia pertanian. Banyak yang beranggapan bahwa bertani bukan pekerjaan yang patut menjadi pilihan. Opini umum ini turut menggiring orang untuk meninggalkan lahan-lahan yang seharusnya digarap dan menghasilkan pangan untuk kebutuhan sehari-hari. Memang begitu kuat suatu opini mempengaruhi cara berpikir manusia bahkan sesuatu yang negatif pun bisa menguasai jalan pikiran.
Apalagi, pendidikan anak sejak usia dini secara sengaja menjauhkan mereka dari dunianya sendiri. Tidak ayal anak-anak desa diperkenalkan dengan teknologi berbasis industri  sehingga lambat laun mereka lupa akan lahan pertanian di sekitar rumahnya yang harus digarap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...