Langsung ke konten utama

The Great Momentum





Kelelahan hari ini menjadi bagian dari kerja keras yang harus dilakukan dalam memanfaatkan momentum yang menghampiri. Sudah menjadi  bagian dari skema yang Maha Kuasa ketika momentum itu datang. The Great Momentum,  mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan apa dan bagaimana yang sebenarnya terjadi.
Ketika sebuah rencana untuk memperluas usaha telah dibuat, maka kita tinggal menunggu untuk mendapatkan momentum yang tepat. Momentum itu harus digunakan sebaik-baiknya.
Saya berencana untuk membuat kandang ayam, kandang kelinci dan kolam lele tetapi kekurangan bahan baku. Ternyata bahan baku yang dibutuhkan sudah tersedia. Bapak saya mendapatkan banyak bambu bekas membangun rumah orang lain. Sekarang, saya tinggal melaksanakan rencana sesuai dengan gambar yang telah dibuat.
Sekarang saya mulai faham bahwa merencanakan itu penting artinya untuk kehidupan kita. Saya tidak peduli orang bilang, “Ah, kamu terlalu banyak rencana.” Padahal, ketika momentum itu datang kita sudah siap dengan rencana yang telah dibuat. Secara sadar atau tidak sadar maka sebenarnya kita telah berharap akan rencana yang kita buat. Ketika Alloh mengabulkan do’a kita maka sepatutnya bersyukur dengan bekerja keras, cerdas dan sungguh-sungguh.
Ketika momentum datang bisa jadi itu sebagai petunjuk Alloh pada kita bahwa itulah jalan hidup yang harus kita tempuh untuk saat ini dan masa depan. Jalani saja. Insya Alloh, kita akan mendapatkan bahan bakar untuk terus melaju di jalan kehidupan yang mungkin berkelok dan berlubang. Kita dituntut untuk selalu waspada dan tidak pongah. Konsentrasi dan tidak merugikan orang lain sebagai pengguna jalan yang sama dengan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...