Langsung ke konten utama

Menjadi Menara Gading atau Lampu Pijar?

Komunitas masyarakat biasanya memiliki tokoh sentral dalam sendi kehidupannya. Ada tokoh yang lahir karena jabatan karir, keturunan, pengangkatan, tradisi dan ada juga karena dia memiliki jasa luar biasa terhadap masyarakat. Realita masyarakat dimanapun senantiasa melahirkan tokoh-tokoh baru di setiap zaman yang berbeda. Para tokoh itu adalah manusia unggul yang punya kelebihan dibandingkan orang lain di sekitarnya. Sehingga, dia terlihat berbeda dan berpengaruh besar terhadap kondisi di lingkungannya.
Setiap diri kita adalah tokoh. Sebagaimana peran dalam drama panggung, setiap peran sangat berarti bagi jalan  cerita. Lalu bagaimana kita bisa menjadi tokoh sentral dalam suatu alur cerita. Biasanya ada dua cara, apakah kita akan seperti menara gading atau lampu pijar.
Menara gading menjulang tinggi dan terlihat dominan dibandingkan yang lainnya. Namun dia tidak berpengaruh kuat terhadap lingkungan terdekatnya. Mereka adalah orang-orang yang selalu ingin ‘one man show’­_terlihat eksis sendiri.
Sedangkan lampu pijar bentuknya kecil bahkan lebih kecil dari ruangan yang diteranginya. Pengaruhnya sangat dominan terhadap lingkungannya meskipun secara lahiriah dia kecil dan tidak terlihat dominan.
Kata orang hidup ini adalah pilihan. Kita tinggal memilih yang mana diantara dua tipe manusia di atas. Kalau saya memilih menjadi lampu pijar. Saya banyak menemukan tipe orang seperti lampu pijar. Dia bisa menerangi lingkungannya dengan energi yang kuat walaupun dari fisik yang nyaris tidak terlihat. Tidak kaya, tidak pintar, bukan terpelajar, namun dia punya kekuatan hati untuk membawa masyarakat mengarungi zaman menuju pulau ‘kesejahteraan’.
Mari Kita Lihat Perubahan yang Terjadi Para Individu Dan Komunitas
Dua tipe manusia diatas tentu memiliki efek perubahan yang berbeda pada diri dan lingkungannya. Ketika menjadi menara gading maka dia menjadi manusia yang unggul dalam banyak hal namun terlihat sendirian dan tidak membawa serta komunitasnya. Baginya, kejayaan diri menjadi harga mati dan tidak bisa ditawar lagi. Malahan, kemajuan bersama hanyalah sebuah ilusi dan terdengar fiksi. Ibaratnya, ketika ada lima mobil dalam satu rombongan maka dia adalah yang pertama mencapai tujuan dan meninggalkan yang lainnya di belakang.
Bagi manusia si lampu pijar maka dia menjadi penerang bagi komunitasnya. Kemajuan diri sama dengan kemajuan komunitasnya. Perlahan tapi pasti. Orang seperti ini menjadikan musyawarah sebagai metode ampuh untuk sampai pada kesimpulan bersama tentang apa dan bagaimana kemajuan yang diharapkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...