Langsung ke konten utama

Darimana Kepercayaan Diri Itu Datang?



Pertama, kepercayaan diri kita datang dari Alloh sebagai Yang Maha Pemberi. Dengan doa yang kita panjatkan dan ikhtiar untuk memantapkan hati maka kepercayaan diri itu akan datang. Ketika hati dan pikiran kita berharap akan datangnya perasaan itu maka perasaaan itu tumbuh secara alami.
Kedua, kepercayaan diri timbul karena paradigma kita tentang manusia dan lingkungannya begitu luas. Ketika cara pandang kita begitu sempit akan arti kehidupan ini maka biasanya tidak ada rasa percaya diri dalam hati kita untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Mari kita lihat bahwa manusia di manapun dan kapanpun memiliki peran unik yang masing-masing berbeda. Ada orang kaya, orang terpelajar, petani, presiden dan sebagainya hanyalah sebagai peran manusia dalam kehidupannya. Peran apakah yang sedang kita mainkan maka itulah kita dan tidak harus merasa rendah atau minder. Tetapi, kita pun jangan menjadi superior akan peran kita yang ‘terlihat lebih tinggi’ dengan orang lain.
Ketika kurang percaya diri ada dalam diri kita maka berlatihlah untuk meningkatkannya. Bergaullah dengan orang-orang yang bisa memberikan motifasi bagi kita. Visi kehidupan kita yang jauh ke depan serasa bisa teraih jika dikelilingi oleh orang-orang terbaik dalam kehidupan kita. Seperti pelajaran IPA waktu SMP, makhluk hidup itu terbentuk secara fisiologi dan morfologi sebagian besar karena pengaruh lingkungan dan sebagian kecilnya saja karena faktor genetik.
Ketiga, berpikirlah positif, artinya apa yang kita takutkan tidak akan terjadi. Ada orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi karena apa yang dia miliki secara materi dan ada juga karena apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Sekali lagi, tergantung paradigma. Belenggu setan yang ada dalam pikiran kita perlu disingkirkan karena semua itu mempengaruhi rasa percaya diri kita. Pikiran-pikiran negatif itu harus dibersihkan dengan istighfar dan menambah pengetahuan. Ternyata, semakin banyak tahu akan arti kehidupan ini maka tingkat kepercayaan diri orang akan meningkat. Tidak sedikit orang yang memancarkan kepercayaan diri dalam kesehariannya karena dia tahu apa yang akan dia lakukan.Dia tidak takut  dan selalu yakin akan keberhasilannya di masa depan. Para ulama, ilmuwan, wirausahawan, atlit adalah orang-orang yang penuh dengan kepercayaan diri karena dalam pikirannya adalah kemajuan dan pikiran positif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...